Di sesuah rumah sederhana di pinggir kota, hiduplah seorang anak kecil bernama Dira. Dira berusia delapan tahun, mata bulatnya selalu bersinar ketika ia menemukan sesuatu yang baru. Setiap sore, setelah pulang sekolah, Dira menurunkan tasnya di sudut kamar, mengambil kotak tabungan berbentuk kaleng bunga-bunga, dan memasukkan koin-koin yang ia kumpulkan: satu koin seribu, dua koin seribu, dan kadang‑kadang selembar uang kertas kecil sisa uang saku sekolah.
“Semoga lekas penuh, nanti bisa beli buku yang kuinginkan,” gumamnya sambil menggesekkan jari kecilnya di permukaan logam yang berkilau. Tabungan itu bukan sekadar angka; ia adalah harapan Dira untuk menembus dunia yang selama ini hanya ia lihat lewat jendela rumah.

