30/03/26

Sampai Fajar di Puncak

Mila tidak pernah menyangka akan menghabiskan akhir pekannya di tengah hutan pinus tanpa sinyal, tanpa kopi susu kekinian, dan tanpa teman.

Semua berawal dari janji Sasha, sahabatnya, yang tiba-tiba membatalkan acara dua jam sebelum keberangkatan.

“Mila, maaf banget, aku sakit perut,” kata Sasha lewat pesan singkat.

“Tadi pagi masih sehat-sehat aja!”

“Iya tiba-tiba. Kamu tetep jalan aja, grupnya udah oke kok, aku udah kasih tahu panitia kalau kamu gantiin aku.”

“Sendirian?”

“Nggak sendirian dong, kan satu grup isinya sepuluh orang.”

Mila mengangguk. Sepuluh orang yang tidak ia kenal. Di tengah hutan. Tanpa sinyal. Dia hampir membatalkan, tapi Sasha sudah membayarkan biaya pendaftaran dan Mila bukan tipe orang yang suka menyia-nyiakan uang.

Jadilah ia duduk di kursi penumpang mobil double cabin yang membawa tujuh orang rombongan, termasuk dirinya. Dua mobil lainnya berjalan di depan dan belakang. Perjalanan dari Jakarta menuju perkemahan di lereng Gunung Patuha memakan waktu sekitar empat jam.

Sepanjang perjalanan, Mila lebih banyak diam. Mendengarkan orang-orang di mobilnya mengobrol tentang gunung, tentang jalur pendakian, tentang tenda dan sleeping bag—topik yang sama sekali asing di telinganya. Dia anak Jaksel sejati. Alam terbaik versinya adalah mal dengan AC dan kafe yang estetik.

Satu-satunya orang yang juga tidak banyak bicara adalah sopir mobil mereka. Namanya Diki. Pria itu duduk di belakang kemudi dengan tenang, hanya sesekali tersenyum mendengar obrolan di belakang. Dia salah satu pemandu dari komunitas petualang yang menyelenggarakan acara ini.

Diki tidak seperti pria Jaksel yang biasa ditemui Mila. Tidak pakai parfum menyengat, tidak rambut klimis, tidak kemeja oversize. Dia berkulit sawo matang, lengan bajunya digulung sampai siku, dan jari-jarinya tampak kuat menggenggam setir. Ada peta di dashboard, bukan GPS.

“Mila, lo ngerjainnya apa sih?” tiba-tiba seseorang dari belakang bertanya. Namanya Tari, rambut pendek, ramah sekali dari awal.

“Baru lulus SMA,” jawab Mila.

“Oh sama dong! Mau masuk mana?”

“Masih nunggu pengumuman.”

“Diki juga baru lulus kok,” celetuk seorang cowok di sebelah Tari. “Tapi Diki mah lebih milih jadi pemandu dulu daripada kuliah.”

Diki hanya tersenyum kecil di balik kaca spion.

“Nganggur aja katanya,” goda cowok itu lagi.

“Bukan nganggur, Yoga. Namanya ngambil jeda,” balas Diki datar.

Mila memperhatikan itu. Sebuah jeda. Konsep yang tidak pernah terpikir olehnya. Selama ini, hidupnya selalu berjalan sesuai rencana: lulus, kuliah, kerja. Tidak pernah terpikir untuk mengambil jeda.

---

Mereka tiba di area perkemahan saat senja.

Dan Mila terpana.

Perkemahan ini berada di sebuah bukit kecil yang dikelilingi hutan pinus. Di hadapannya terbentang hamparan perbukitan hijau dengan kabut tipis yang mulai turun. Di kejauhan, Gunung Ciremai tampak gagah dengan awan putih menggantung di puncaknya.

Udara sejuk menusuk pori-pori, tapi Mila tidak peduli. Matanya sibuk menangkap warna-warna langit: jingga, ungu, merah muda, semuanya bercampur seperti lukisan.

“Bagus ya,” kata seseorang di sampingnya.

Mila menoleh. Diki berdiri beberapa langkah di sampingnya, matanya juga menatap ke arah yang sama.

“Iya,” jawab Mila. “Gue nggak nyangka... sebagus ini.”

“Ini masih biasa,” kata Diki sambil tersenyum. “Besok pagi kalau lo bangun buat lihat sunrise, lo bakal bilang yang ini biasa aja.”

“Sunrise jam berapa?”

“Sekitar setengah lima. Tapi spot terbaik butuh tracking tiga puluh menit dari sini.”

Mila mengernyit. Tiga puluh menit jalan kaki. Di gelap. Sebelum subuh.

“Gue pikir camping itu... santai,” katanya pelan.

Diki tertawa kecil. Suaranya berat tapi terdengar hangat di tengah hawa dingin.

“Buat lo yang pertama kali, ini sudah santai kok. Nggak usah tracking juga nggak apa-apa. Lo bisa liat sunrise dari depan tenda aja.”

“Lo bakal ke spot terbaik?”

“Iya. Gue harus anter rombongan yang mau.”

Mila mengangguk. Belum memutuskan.

Malam harinya, mereka berkumpul di sekitar api unggun.

Mila duduk agak menjauh karena masih belum akrab dengan siapa pun. Dia lebih sibuk memperhatikan nyala api yang membesar, kepulan asap yang naik ke langit berbintang, dan tawa-tawa kecil dari orang-orang di sekitarnya.

Di seberangnya, Diki sedang mengajar Yoga dan Tari cara menyalakan api tanpa korek. Menggunakan batu api dan ranting kering.

“Bisa gitu aja?” tanya Tari kagum.

“Dulu kakek gue ngajarin,” jawab Diki santai.

“Kakek lo dimana?”

“Di kampung. Di lereng Merbabu.”

“Lo dari sana? Terus kenapa ke sini?”

Diki mengaduk api dengan sebatang kayu. “Pengen lihat gunung lain. Jalan-jalan dulu sebelum mikirin kuliah.”

Mila memperhatikan gerak-gerik Diki. Cara dia berbicara lambat, tidak terburu-buru. Cara dia duduk bersila dengan tenang, tidak gelisah seperti kebanyakan cowok seusianya yang selalu sibuk dengan ponsel. Ponselnya sendiri, Mila perhatikan, adalah ponsel jadul dengan tombol-tombol.

“Lo nggak bawa iPhone?” Mila tanpa sengaja melontarkan pertanyaan itu keras-keras.

Beberapa orang menoleh. Diki menatapnya dengan ekspresi datar, lalu tersenyum.

“Buat apa?”

“Ya... buat foto, sosmedan, ngontak orang...”

“Gue punya HP ini buat dihubungi kalau ada yang mau booking trip. Sisanya... gue rasa nggak perlu.”

“Lo nggak punya Instagram?”

“Punya. Dulu pernah bikin. Lupa password.”

Sekelompok orang tertawa. Mila ikut tertawa, meskipun dia tidak yakin apakah Diki bercanda atau serius.

“Terus kalau lo kangen sama orang di rumah gimana?” tanya Mila lagi.

Diki menatap api unggun sejenak.

“Gue telepon. Pake ini.” Dia menunjukkan ponsel jadulnya. “Suaranya lebih jelas daripada pesan teks.”

Tari mendesah. “Diki, lo tuh romantis banget ya.”

Diki hanya mengangkat bahu.

Mila tidak tahu kenapa, tapi dia merasa ada sesuatu yang berbeda dari pria itu. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.

---

Keesokan paginya, Mila terbangun karena suara riuh dari tenda sebelah. Beberapa orang sudah bersiap untuk tracking melihat sunrise. Mila melihat jam tangannya: 04.15.

Seharusnya dia tidur lagi. Tapi rasa penasaran mengalahkan kantuk.

Dia keluar dari tenda, menggigil kedinginan. Udara pagi di pegunungan menusuk tulang. Dia hanya mengenakan jaket tipis—kesalahan besar untuk ukuran orang pertama kali camping.

“Lo ikut?”

Diki berdiri di dekat tiang bendera kecil, sudah memakai jaket tebal dan carrier kecil di punggung.

“Gue... nggak tau,” jawab Mila, menggigil.

Diki memperhatikannya sejenak. Lalu tanpa bicara, dia melepas jaketnya dan melemparkannya ke arah Mila.

“Pakai ini.”

“Eh, nggak usah—”

“Lo kedinginan. Pakai.”

Jaket itu hangat. Terlalu hangat. Mila bisa mencium aroma kayu dan sesuatu yang segar seperti daun pinus.

“Gue ikut,” kata Mila akhirnya.

Diki mengangguk. “Awas jalannya. Gelap.”

Mereka berjalan beriringan di belakang rombongan. Mila membawa senter dari ponselnya, tapi Diki malah menggunakan senter kepala dengan cahaya redup.

“Kenapa nggak terang-terang aja?” tanya Mila.

“Mata kita butuh waktu buat adaptasi sama gelap. Kalau cahayanya terlalu terang, kita nggak bakal liat bintang.”

Mila mendongak. Dan benar saja. Di sela-sela pepohonan, langit masih gelap tapi bertabur bintang lebih banyak dari yang pernah dia lihat semalam.

“Astaga,” bisiknya.

Mereka berjalan lagi. Sesekali Diki berhenti dan menunjuk sesuatu: jejak tapak kijang di tanah, pohon pinus yang tumbuh miring karena angin, suara burung yang sudah mulai berkicau meskipun langit masih gelap.

“Lo tahu semua ini dari mana?” tanya Mila takjub.

“Dari kakek. Dan dari jalan-jalan sendiri. Alam ngajarin pelan-pelan, nggak buru-buru kayak sekolah.”

“Lo nggak takut? Jalan di gelap gini?”

“Takut sama apa?”

“Ya... gelap. Hutan. Hewan buas. Sesuatu yang nggak dikenal.”

Diki berhenti. Dia menoleh ke arah Mila. Di cahaya samar dari senter kepala, Mila bisa melihat matanya yang teduh.

“Ketakutan itu wajar. Tapi kalau lo berhenti karena takut, lo nggak akan pernah sampai ke tempat yang lo tuju.”

Mila tidak menjawab. Dia merasakan sesuatu berdesir di dadanya. Bukan karena dingin.

Mereka sampai di spot terbaik tepat saat matahari mulai muncul.

Sebuah bukit kecil tanpa pohon, dengan padang rumput yang masih basah oleh embun. Di hadapan mereka, gunung-gunung menyapa dengan siluet hitam perlahan berubah warna. Langit berubah dari gelap ke biru keunguan, lalu jingga, lalu emas.

Tidak ada yang berbicara. Semua orang terdiam, seolah suara apa pun akan merusak keajaiban yang sedang berlangsung.

Mila berdiri di tepi tebing kecil, kedua tangannya memegang jaket Diki yang masih melingkar di tubuhnya. Dia tidak berani bergerak. Rasanya seperti sedang menyaksikan lukisan yang terus bergerak.

“Lo puas?” tiba-tiba Diki bersuara dari sampingnya.

Mila mengangguk. “Gue nggak nyangka. Selama ini gue pikir pemandangan bagus cuma di foto-foto. Ternyata...” dia menghela napas, “...foto nggak pernah cukup.”

Diki tersenyum. “Itu yang selalu gue bilang ke orang. Makanya gue nggak terlalu butuh kamera bagus.”

Mereka berdiri berdampingan dalam diam. Angin pagi membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Mila menutup matanya sejenak, mencoba menyimpan momen ini di ingatan dengan seluruh indranya: dingin di ujung jari, hangat jaket Diki, suara angin, dan aroma khas yang sekarang sudah ia kenali sebagai aroma Diki.

“Diki,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Lo... nggak pengen kuliah?”

Diki terdiam cukup lama. Mila hampir mengira dia tidak akan menjawab.

“Pengen,” akhirnya dia berkata. “Tapi gue pengen punya alasan yang jelas kenapa gue kuliah. Bukan cuma karena semua orang kuliah.”

“Terus sekarang lo lagi nyari alasannya?”

“Iya. Dengan jalan-jalan dulu.”

Mila membuka matanya. Matahari sudah sepenuhnya naik, menyinari lembah di bawah mereka dengan cahaya keemasan.

“Lo nggak takut ketinggalan?” tanyanya.

“Ketinggalan apa?”

“Ya... temen-temen pada kuliah, pada punya kehidupan...”

Diki menoleh padanya. Matanya teduh tapi ada sesuatu di sana yang membuat Mila tiba-tiba merasa seperti sedang dibaca isi hatinya.

“Gue bukan lari dari kehidupan, Mila. Gue lagi jalan menuju kehidupan yang gue mau. Nggak semuanya harus cepat.”

Mila menoleh. “Gue kadang iri sama orang yang sejalan kayak lo.”

“Setiap orang punya ritme, lo juga, tapi lo sendiri nggak sadar.”

Mereka berdua kembali diam. Mila memikirkan kata-kata Diki. Tentang jeda. Tentang punya alasan. Tentang tidak terburu-buru.

Untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa selama ini dia hanya berlari tanpa benar-benar tahu mau ke mana.

---

Hari kedua di perkemahan terasa berbeda bagi Mila.

Dia sudah tidak lagi menjadi orang asing yang diam di pojok. Dia membantu Tari menyiapkan sarapan, tertawa saat Yoga bercerita tentang pengalamannya nyasar di hutan, dan ikut bermain kartu setelah makan siang.

Tapi matanya sering tanpa sadar mencari Diki.

Diki yang pagi itu sedang memperbaiki tali tenda yang kendur.

Diki yang siang tadi duduk di bawah pohon pinus sambil membaca buku tipis bersampul lusuh.

Diki yang sore ini duduk di tepi telaga kecil dekat perkemahan, melepas sepatu dan merendam kakinya di air yang jernih.

Mila menghampirinya. Duduk di sampingnya tanpa permisi.

“Airnya dingin,” kata Mila sambil mencelupkan ujung jari kakinya.

“Tapi bikin adem,” balas Diki.

Mereka duduk diam beberapa saat. Telaga kecil itu dikelilingi pepohonan pinus yang tinggi. Daun-daun jarum pinus berguguran di permukaan air, berwarna keemasan jika terkena sinar matahari sore.

“Diki,” Mila memulai.

“Hm?”

“Setelah camping ini, lo ke mana lagi?”

“Ada rencana ke Ijen. Terus mungkin Lombok.”

“Sendirian?”

“Kadang sama temen. Kadang sendiri. Nanti setelah itu... gue pikir-pikir lagi mau kuliah atau nggak.”

“Kalau kuliah, mau di mana?”

Diki mengambil sebilah rumput dan memainkannya di antara jari. “Nggak tau. Tapi gue rasa nggak di Jakarta.”

Mila tertawa kecil. “Kenapa? Jakarta jelek?”

“Bukan jelek. Cuma... terlalu cepat buat gue.”

“Lo bilang Jakarta terlalu cepat, tapi lo sendiri mau ekspedisi ke mana-mana. Bukannya itu juga cepat?”

Diki menoleh padanya. “Beda. Bergerak cepat itu nggak masalah kalau lo tahu lo mau ke mana. Tapi kalau lo diam di tempat yang sama tapi hidup lo berjalan terlalu cepat tanpa lo kendalikan... itu yang bikin capek.”

Mila merenung. Dia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.

“Lo orang yang pikirannya dalem ya,” katanya akhirnya.

“Bukan dalem. Cuma punya waktu buat mikir.”

Mila memutar matanya. “Pede amat.”

Diki tertawa. Tawa pertamanya yang benar-benar lepas sejak Mila mengenalnya.

Dan Mila menyadari saat itu juga.

Dia menyukai tawa itu.

Dia menyukai cara Diki menjelaskan hal-hal rumit dengan kata-kata sederhana.

Dia menyukai cara Diki melihat dunia.

Dan dia tahu, dalam waktu kurang dari 24 jam, dia harus pulang ke Jakarta. Kembali ke hidupnya yang cepat. Kembali ke dunia yang mungkin tidak akan pernah dimasuki oleh Diki.

Malam terakhir di perkemahan, Mila tidak bisa tidur.

Dia keluar dari tenda dan berjalan menuju api unggun yang masih menyala redup. Diki sudah ada di sana, duduk sendirian dengan selimut tipis di pundak.

“Lo juga nggak bisa tidur?” tanyanya.

Diki menggeleng. “Gue suka malam terakhir. Paling tenang.”

Mila duduk di sampingnya. Jarak mereka kali ini lebih dekat dari sebelumnya. Dia bisa merasakan hangat dari tubuh Diki.

“Gue jadi mikir,” kata Mila pelan.

“Mikir apa?”

“Tentang apa yang lo bilang tadi siang. Tentang jeda. Tentang punya alasan.”

Diki tidak menjawab. Menunggu.

“Gue selama ini cuma ikut arus,” lanjut Mila. “SMA, terus kuliah, terus kerja. Gue nggak pernah mikir... gue mau apa sebenarnya.”

“Itu nggak salah,” kata Diki. “Banyak orang kayak gitu.”

“Tapi lo nggak kayak gitu.”

“Gue juga dulu. Sampai kakek gue bilang, jangan jadi orang yang hidupnya cuma menjalani.”

Mila tersenyum pahit. “Kakek lo bijak banget.”

“Dulu dia kuli bangunan. Nggak sekolah tinggi. Tapi dia punya waktu buat baca buku, buat jalan-jalan ke gunung, buat ngajar gue banyak hal. Kata dia, pendidikan itu penting, tapi nggak harus di kampus.”

“Lo setuju?”

Diki menghela napas. “Gue nggak bilang kampus nggak penting. Gue mau kuliah karena gue tahu gue mau belajar apa.”

Mila memeluk lututnya. “Gue jadi iri.”

“Jangan iri. Setiap orang punya jalannya sendiri.”

Mereka terdiam. Api unggun merambat pelan. Di kejauhan, terdengar suara burung malam.

“Mila,” panggil Diki pelan.

“Hm?”

“Besok lo pulang. Lo bakal lanjutin hidup lo. Itu nggak masalah.”

“Tapi?”

Diki tersenyum kecil. “Tapi kalau suatu hari lo ngerasa butuh jeda... lo tahu harus cari ke mana.”

Mila menatapnya. Di bawah sinar rembulan yang nyaris penuh, wajah Diki tampak teduh. Matanya berbinar, tidak oleh cahaya, tapi oleh sesuatu yang lain.

“Lo serius?” tanya Mila, suaranya bergetar sedikit.

“Gue nggak pernah bercanda soal gunung,” jawab Diki. Lalu tersenyum. “Dan soal lo.”

Jantung Mila berdegup kencang. Dia ingin bertanya lebih jauh, ingin memastikan apa maksud Diki, tapi suaranya seolah hilang.

Yang bisa dia lakukan hanyalah duduk di sana, bersandar pada kehangatan api unggun dan kehangatan lain di sampingnya, berharap malam itu tidak akan pernah berakhir.

---

Pagi harinya, mereka berkemas.

Suasana riuh seperti saat pertama datang, tapi kali ini ada nada berbeda. Ada keakraban yang tidak ada sebelumnya.

Mila sibuk melipat tenda dengan dibantu Tari, tapi matanya terus mencari-cari. Diki sedang memuat barang-barang ke mobil double cabin yang sama.

Saat semuanya siap, mereka berfoto bersama di depan gerbang perkemahan. Mila berdiri di samping Tari, sementara Diki di ujung lain, memegang bendera komunitas.

“Mila, maju dong!” teriak Yoga. “Lo kan yang paling kecil, di depan aja!”

Mila dipaksa maju ke barisan depan. Dan secara kebetulan—atau mungkin tidak—Diki juga diminta maju karena dialah pemandu.

Mereka berdiri bersebelahan.

“Senyum!” teriak fotografer.

Mila tersenyum. Di sampingnya, Diki juga tersenyum.

Tangan mereka hampir bersentuhan.

Kilat.

Foto itu tersimpan.

Perjalanan pulang terasa berbeda dari perjalanan pergi.

Jika sebelumnya Mila diam karena merasa asing, kali ini dia diam karena terlalu banyak yang ingin dipikirkan.

Dia duduk di kursi penumpang depan, di samping Diki yang menyetir. Mobil mereka berdua saja karena yang lain ikut mobil rombongan lain.

Radio menyanyikan lagu-lagu lama. Diki menyetir dengan tenang, sesekali menyapa Mila dengan pertanyaan ringan: “Lo laper?” atau “Mau berhenti sebentar?”

Mila menjawab seperlunya. Pikirannya sedang sibuk.

Saat mobil memasuki jalan tol yang lurus, Diki membuka suara.

“Mila.”

“Hm?”

“Lo boleh tidur. Masih lama.”

“Gue nggak ngantuk.”

Diki tersenyum. “Mikirin apa?”

Mila menggigit bibir bawahnya. Dia ragu sejenak. Tapi akhirnya berkata, “Gue mikirin... gimana caranya gue bisa punya jeda kayak lo.”

Diki tidak menjawab langsung. Jari-jarinya mengetuk setir pelan.

“Lo nggak harus kayak gue,” katanya akhirnya. “Lo bisa punya jeda dengan cara lo sendiri.”

“Gimana?”

“Ya... ambil waktu buat diri lo sendiri. Nggak usah ikut-ikutan apa kata orang. Jalan-jalan ke tempat yang lo belum pernah dateng. Baca buku yang bukan buat tugas. Atau... ya, camping lagi.”

Mila tertawa kecil. “Camping lagi bareng lo?”

Diki diam sejenak. Mila hampir menyesal bertanya.

“Boleh,” jawab Diki akhirnya. Suaranya datar, tapi Mila bisa mendengar senyum di baliknya.

“Janji?”

“Gue nggak suka janji. Tapi gue akan ada di gunung-gunung yang gue datengin.”

Mila menoleh ke jendela. Di balik kaca, langit sore mulai berwarna jingga. Pemandangan yang tidak seindah di puncak kemarin, tapi tetap membuatnya tersenyum.

Mobil berhenti di depan rumah Mila. Perumahan elite di Jakarta Selatan dengan pagar tinggi dan taman rapi.

Mila turun, mengambil tasnya dari bagasi.

Diki ikut turun. Berdiri di samping mobil dengan tangan di saku celana.

“Makasih ya,” kata Mila.

“Sama-sama.”

Mereka berdiri berhadapan. Mila ingin mengatakan banyak hal. Tapi yang keluar hanya, “Hati-hati di jalan.”

Diki mengangguk. “Lo juga. Jangan lupa makan.”

Mila tersenyum. “Iya, bapak-bapak.”

Diki tertawa kecil. Lalu dia berbalik, membuka pintu mobil.

“Diki!” panggil Mila tiba-tiba.

Diki menoleh.

Mila menarik napas panjang. “Gue... gue bakal cari jeda. Janji.”

Diki tersenyum. Senyum yang sama seperti saat pertama kali dia melihat Mila kedinginan di depan tenda. Teduh. Hangat. Membuat Mila ingin membekukan waktu.

“Gue tunggu,” kata Diki.

Lalu dia masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan melaju pelan meninggalkan rumah itu.

Mila berdiri di depan pagar, menatap mobil double cabin yang perlahan menghilang di ujung jalan.

Mila membawa tasnya masuk ke dalam rumah.

Di dalam dadanya, ada sesuatu yang tumbuh. Bukan hanya perasaan pada seorang pemandu gunung dengan ponsel jadul. Tapi juga keinginan—untuk pertama kalinya—untuk menemukan jalannya sendiri. Untuk berani mengambil jeda. Untuk berani bertanya: aku mau ke mana sebenarnya?

Dan mungkin, di salah satu gunung yang akan ia datangi nanti, dia akan bertemu lagi dengan Diki.

Atau mungkin tidak.

Tapi itu cerita lain. Cerita yang belum ditulis.

Untuk sekarang, Mila cukup bahagia dengan satu hal:

Dia pulang dengan membawa lebih dari sekadar foto pemandangan.

Dia pulang dengan sebuah janji kecil pada dirinya sendiri.

Bahwa dia tidak akan lagi menjalani hidup tanpa tahu arah.

Bahwa dia akan mencari jalannya sendiri.

Dan bahwa dia akan kembali ke puncak suatu hari nanti.

---

Akhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar